Wednesday, April 19, 2017

Setengah Hari di Kota Minamata

Pertama kalinya saya dengar tentang Minamata waktu masih kuliah. Sekitar akhir 1950-an, penyakit 水俣病 (Minamata byou) menyerang penduduk Minamata sebagai akibat keracunan merkuri. Kandungan metilmerkuri dari limbah cair Pabrik Chisso terakumulasi pada organisme laut di Teluk Minamata, yang kemudian dimakan oleh penduduk setempat.

Agustus 2014, rasa penasaran akhirnya membawa saya pergi ke Minamata. Saya berangkat dari Saijo berbekal 18 Kippu dan print out jadwal kereta dari Hyperdia. Waktu itu nomor Jepang saya sudah mati sehinga tidak ada paket data di HP, yang berarti... saya tidak boleh sampai salah jadwal. Dengan jadwal yang ada, saya akan sampai sekitar jam 9 malam dengan berganti kereta sekitar 4 kali. Sampai ketinggalan atau salah ganti satu kereta saja, hampir bisa dipastikan akan ketinggalan semua kereta selanjutnya. Kalau ada paket data atau wifi, masih terbantu karena saya bisa langsung cari jadwal lain di Hyperdia. Tapi karena keberadaan wifi tidak bisa dipastikan, saya benar-benar harus mengikuti jadwal.

Alhamdulillah tidak ada drama kereta dan saya sampai dengan selamat di Yatsushiro. Lho, katanya mau ke Minamata? Benar kok. Saya berhenti di Yatsushiro karena alasan hotel dan kereta. Dari pencarian sebelum pergi, saya hanya menemukan satu hotel di Minamata. Sistem booking hotel tersebut membingungkan untuk saya yang tidak lancar berbahasa Jepang. Selain itu, Minamata tidak dilalui jalur kereta JR yang berarti saya tidak bisa pakai 18 Kippu. Jadi saya putuskan untuk menginap di Yatsushiro dan besoknya baru ke Minamata sebagai day trip. Opsi lainnya bisa juga dengan naik shinkansen ke Stasiun Shin-Minamata lalu sambung kereta lokal ke Stasiun Minamata. Opsi ini tentu saja tidak ramah di kantong mahasiswa, jadi saya pass saja.

Keesokan harinya saya ke Minamata naik Hisatsu Orange Railway selama 1 jam. Dari Stasiun Minamata, saya langsung ke tujuan pertama: Minamata Disease Municipal Museum. Selama di sana saya tidak menemukan transportasi publik, jadi saya bagaikan Horang Kayah™ kemana-mana pakai taksi.

Menuju Minamata (perhatikan interior kereta yang rada jadul)
 
Stasiun Minamata


Minamata Disease Municipal Museum adalah museum yang berada di sebelah Eco-Park Minamata, daerah reklamasi yang sekarang dibangun sebagai memorial park. Begitu saya masuk, Ibu resepsionis kaget melihat saya. Katanya tidak banyak gaijin (orang asing) yang ke Minamata. Meskipun begitu, saat saya datang museumnya cukup ramai oleh pengunjung (tapi saya tetap satu-satunya orang asing). Ibu resepsionis mengajak saya ke ruang audiovisual dan memutarkan video tentang Minamata byou (setelah video jalan beberapa menit tiba-tiba si Ibu masuk dengan heboh dan menghentikan video, lalu dia putar kembali dengan subtitle Bahasa Inggris). Setelah itu saya lanjut melihat display tentang Minamata byou. Penyakit ini sangat mempengaruhi kota Minamata secara keseluruhan sampai pada suatu titik tidak ada yang mau membeli produk dari Minamata, khawatir akan terjangkit penyakit. Jika ada orang yang diketahui berasal dari Minamata, akan dijauhi oleh orang lain karena sempat ada anggapan bahwa Minamata byou adalah penyakit menular. Ada satu kutipan yang saya sangat ingat:
Ignorance is sinful. Pretending to know is more sinful. Lying is the most sinful. -Takeshi dan Eiko Sugimoto, pasien Minamata byou.
Sayangnya di Minamata Disease Municipal Museum tidak boleh mengambil foto. Tapi Ibu resepsionis berbaik hati menawarkan untuk memfoto saya di pintu depan museum.

Ada bayangan Ibu resepsionis di pintu kaca
  
Setelah itu Ibu resepsionis juga membantu memesankan taksi ke tujuan selanjutnya. Sambil menunggu taksi datang, si Ibu menawarkan saya ke Environmental Education and Information Center milik pemerintah Prefektur Kumamoto yang terletak persis di seberang Minamata Disease Municipal Museum. Di pusat kegiatan ini terdapat Eco-Stage, tempat pengunjung (terutama anak-anak) untuk belajar tentang eco-lifestyle, termasuk pemilahan sampah di Minamata.


Eco-Stage

Pemilahan sampah di Minamata

Taksi datang dan saya lanjut menuju ke museum selanjutnya: Minamata Disease Center Soshisha. Museum ini terletak di daerah bukit. Penampakannya kurang meyakinkan, lebih terlihat seperti rumah daripada museum. Ketika saya sampai di sana, ada seorang mas-mas yang sepertinya juga pengunjung. Saya tanya apakah mas tersebut mau ke Museum Soshisha. Dia mengiyakan, tapi dia tidak tahu cara masuknya. Saat kami berdua sedang berdiri kebingungan, keluarlah mas-mas berpakaian kaos dan celana pendek dari rumah sebelah. Ternyata benar rumah biru adalah museumnya, dan dia menunjukkan jalan ke pintu masuk. Lho santai sekali, anggap saja rumah sendiri. :D

Pintu masuk Museum Soshisha


Begitu kami masuk, mas penjaga museum menyalakan kipas angin. Museum ini tidak ada AC-nya, jadi kalau datang di musim panas seperti saya akan puanasss sekali. Soshisha adalah sebuah LSM yang peduli terhadap Minamata byou dan dampaknya. Minamata Disease Museum Soshisha lebih banyak bercerita dari segi penduduk, khususnya nelayan yang merupakan mata pencaharian kebanyakan penduduk Minamata (kota nelayan yang penduduknya sakit karena memakan hasil laut yang terkontaminasi, how ironic). Tepat setelah pintu keluar museum ada toko yang menjual berbagai buku terkait Minamata byou. Di sana saya membeli buku "Illustrated Minamata Disease" terbitan Soshisha.




Dari Museum Soshisha, saya kembali ke Stasiun Minamata untuk mengejar kereta pulang ke Yatsushiro. Tapi dari stasiun saya keliling sebentar untuk cari konbini (minimarket) karena lapar. Sejauh kaki saya membawa, saya tidak menemukan minimarket dalam jarak 15 menit berjalan kaki dari stasiun. Entah karena saya berjalan ke arah yang salah, atau karena sesuai dengan teori-teorian saya: Minamata masih berusaha bergerak dari kesulitan ekonomi akibat Minamata byou. Seperti yang juga ditunjukkan oleh hotel yang hanya ada satu di Minamata.


Jalan-jalan ke Minamata ini justru lebih mahal daripada jalan-jalan ke kota besar, mungkin karena memang bukan daerah wisata. Hotel saya di Yatsushiro harganya dua kali lipat dari hostel yang ada di Osaka atau Tokyo. Biaya transportasi lebih besar karena kemana-mana dengan taksi, berbeda dari kota besar yang ada day pass untuk transportasi publik. Tapi kalau memang ada ketertarikan dengan Minamata byou, atau memang suka menjelajah kota kecil, Minamata bisa jadi tujuan. Salah satu bagian favorit saya dari perjalanan ke Minamata: pemandangan dari kereta Hisatsu Orange Railway.

This view + window seat at the train + calm music through earphone = Best


Link terkait:
Minamata Disease Municipal Museum
Minamata Disease Center Soshisha

No comments:

Post a Comment